Marhaban yaa Ramadhan, Ramadhan syahru shiyam, Ramadhan Syahrun Mubarak…..
Puasa adalah kewajiban bagi setiap mukallaf ( muslim baligh, berakal ). Makna puasa Ramadhan adalah menahan diri dari segala sesuatu yang bisa membatalkan puasa berupa makan, minum dan lain sebagainya dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari. Jadi bagi setiap mukallaf wajib hukumnya melaksanakan ibadah puasa selama sebulan full terkecuali ada udzur / hal yang memperbolehkan tidak berpuasa. Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan dan keutamaan.
Ramadhan terdiri dari :
Ra : Ridwanullah ( keridhaan dari Allah berupa pahala yang berlipat ).
Ma : Mahabbatullah ( kecintaan dari Allah karena keikhlasannya dalam beramal ).
Dha : Dhamanullah ( mendapatkan lindungan Allah dari jilatan api neraka ).
N : Nurullah ( cahaya petunjuk Allah menuju shirat al-mustaqim “ jalan yang lurus ” )
Bulan Ramadhan adalah penolong bagi kaum muslim, dibulan itu hati setiap muslim yang beriman dihiasi dengan nur ma`rifat dan cahaya keimanan. Dibulan tersebut akan bertaburan bermacam-macam kemulyaan dan keberkahan bagi setiap insan, seiring dengan kedatangan tamu agung berupa shiyam ramadhan, keberkahan bulan ramadhan tidak hanya milik kaum muslim, akan tetapi akaun non muslimpun merasakannya, terutama disektor perekonomian.
Alangkah mulianya bagi insan beriman yang berbesar hati untuk menyisihkan sebagian hartanya dengan berinfak dijalan Allah SWT kepentingan ummat. Infak merupakan upaya seseorang untuk mengeluarkan sebahagian harta yang dimiliki guna membersihkannya dari berbagai macam kotoran dan mafsadah “kerusakan” dan agar mendapatkan keutamaan dari Allah. Sebagaimana dalam hadist Nabi Muhammad bersabda : “ Maharnya bidadari yang elok bersih disyurga adalah segenggam kurma dan sepotong roti ( yang dishodakohkan / diinfakkan dijalan-Nya ) “.*
Infak dijalan Allah memiliki beberapa fadhilah keutamaan:
Ø Ciri orang yang bertaqwa kepada Allah Ta`ala.
Dijelaskan dalam firman Allah Ta`ala ( QS.2 : 2 - 3 ) : “ kitab ( Al-Qur`an ) ini tidaklah ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa [2], yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, melaksanakan shalat, menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka [3].”
Ø Ciri seorang mukmin sejati.
Dijelaskan dalam firman Allah Ta`ala ( QS.8 : 3 - 4 ) : “ yaitu orang-orang yang melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka [3]. Merekalah orang yang benar-benar beriman, mereka akan memperoleh derajat `tinggi` disisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki `nikmat` yang mulia [4]. “
Ø Ciri mukmin yang berhak mendapatkan nikmat Allah yang abadi.
Dijelaskan dalam firman Allah Ta`ala ( QS. 35 : 29 ) : “ Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah ( Al-Qur`an ) dan melaksankan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tiada akan merugi [29]. “
Ø Proses penyucian hati insan.
Proses penyucian hati merupakan fase yang teratas dalam tahap ikmalul iman (kesempurnaan iman), dimana orang yang hatinya suci, maka amal perbuatannya akan selalu ikhlas dan berlandaskan hukum syariat Islam guna memperoleh ganjaran pahala dari Allah ta`ala.
Berbagi dibulan suci ramadhan merupakan hal yang luar biasa pahalanya disisi Allah Ta`ala, dalam berbagi tidaklah terbatas pada hal-hal yang bernilai lebih, sesuatu yang bernilai rendah sekalipun dimata manusia, namun dihadapan Allah akan bernialai plus. Semisal air mineral yang nilainya tak seberapa, akan tetapi bilamana diniatkan untuk ta`jil bagi musafir yang hendak berbuka puasa, Insya allah hal tersebut memiliki keagungan disisi Allah. Terlebih bagi seseorang yang mendapatkan keluasan rezeki, maka alangkah afdal-nya bilamana dia menyisihkan ( lebih besar ) sebagian nikmat tersebut dijalan Allah guna kepentingan ummat.
Dalam berinfak, seorang munfik bisa memberikannya ( barang yang akan diinfakkan ) langsung kepada perorangan ( yatim/piatu, fakir/miskin ) ataupun melalui wadah lembaga yang berada dikoridor tersebut yang kompeten yang menaungi mereka ( yatim / piatu, fakir/miskin, dan dhuafa ) secara kaffah ( menyeluruh : dari proses penerimaan sampai pendistribusian kepada mereka yang memang berhak untuk mendapatkan hak tersebut secara cermat teliti ). Sebagaimana Yayasan “Nuurul Falaah Sunter” Jakarta Utara yang dipimpin oleh Bpk. Drs. H. Anyong Musa dan sekretaris Bapak. Mulyo Sentono yang telah berkiprah dalam dunia pendidikan dan sosial selama berpuluh-puluh tahun dalam upaya mensejahterakan ( mengelola dan membina anak-anak yatim / piatu dan dhuafa, panti / non panti ) hingga menetaskan generasi handal yang siap menghadapi tantangan globalisasi dan modernisasi teknologi.
Dalam dunia pendidikan, Yayasan “ Nuurul Falaah Sunter ” siap mencetak generasi Qur`ani yang bisa menghayati dan mengamalkan intisari yang tertuang dalam Kitab Suci Al-Qur`an pedoman hidup didunia menuju ladang akhirat yang tiada fana.
Dan dalam bidang sosial, Yayasan “ Nuurul Falaah Sunter ” memberikan perhatian kepada anak-anak binaan berupa materi yang selalu mendapatkan pantauan khusus dari para pengurus, namun disisi lain, penguruspun tidak menafikan imateri, karena seseorang tidaklah cukup hanya dengan materi melimpah, namun imateri juga harus terpenuhi berimbang agar tidak pincang dengan kata lain imateri jauh lebih penting dibandingkan harta yang menumpuk, karena harta akan musnah dan habis, sementara ilmu akan kekal abadi sebagai bekal menuju akhirat daarul khuldi ( tempat keabadian) .
Marilah kita berlomba-lomba dalam kebajikan semoga kita meraih kemenangan dan mendapatkan suatu keridhaan dari Allah Ilahi Rahman.
Ja`alanallahu waiyyakum minal `aidin wal faizin, Taqobbalalahu minna waminkum shalihal a`mal.
Amien
Wallahu a`lam bishowab.
Referensi :
v Ghunyah, Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy al-Hasany ( Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Mesir) Juz 2., hal.12
v Tanqihul Qoul al-Hatsits, Muhammad Ibnu Umar ( Pustaka Alawiyyah : Semarang ) t.th hal. 28.
Ditulis oleh Ust. Hanif S.Pd.I (Pengajar Madrasah Diniyyah Nuurul Falaah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar