Selamat Datang di blog Yayasan Nuurul Falaah Sunter Lembaga Sosial Keagamaan di bidang Pembinaan Anak Yatim Piatu, Pendidikan dan Keagamaan. Jl. Sunter Bentengan RT 005/05 No. 26 Kel. Sunter Jaya Jakarta Utara Telp. 6504280, Fax 6520340. Program donasi bagi Yatim Piatu binaan Yayasan Nuurul Falaah Sunter dapat di transver melalui rekening Bank Mandiri Jakarta Mall Kelapa Gading No. AC. : 125.00 - 0765265 - 4 An. Yayasan Nuurul Falaah Sunter

Jumat, 23 Agustus 2013

PEMANFAATAN LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR UNTUK ANAK USIA DINI

Peran guru sebagai fasilitator dalam pelaksanaan pendidikan untuk anak usia dini harus mampu memberikan kemudahan kepada anak untuk mempelajari berbagai hal yang terdapat dalam lingkungannya.
Seperti kita ketahui bahwa anak usia dini memiliki rasa ingin tahu dan sikap antusias yang kuat terhadap segala sesuatu serta memliki sikap berpetualang serta minat yang kuat untuk mengobservasi lingkungan. Ia memiliki sikap petualang yang kuat. Pengenalan terhadap lingkungan di sekitarnya merupakan pengalaman yang positif untuk mengmbangkan minat keilmuan anak usia dini.
Pada bab ini akan dikaji beberapa hal yang berkaitan dengan pentingnya pemanfaatan sumber belajar lingkungan untuk anak usia dini yang diawali dngan pembahasan mengenai pengertian lingkungan itu sendiri, dilanjutkan dengan penjelasan tentang nilai-nilai lingkungan, jenis lingkungan, teknik menggunakan lingkungan dan prosedur pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar untuk anak usia dini.
  1. Pengertian Lingkungan Sebagai Sumber Belajar
Sebagai makhluk hidup, anak selain berinteraksi dengan orang atau manusia lain juga berinteraksi dengan sejumlah makhluk hidup lainnya dan benda-benda mati. Makhluk hidup tersebut antara lain adalah berbagai tumbuhan dan hewan, sedangkan benda-benda mati antara lain udara, air, dan tanah. Manusia merupakan salah satu anggota di dalam lingkungan hidup yang berperan penting dalam kelangsungan jalinan hubungan yang terdapat dalam sistem tersebut.
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) lingkungan diartikan sebgai bulatn yang melingkungi (melingkari). Pengertian lainnya yaitu sekalian yang terlingkung di suatu daerah. Dalam kamus Bahasa Inggris peristilahan lingkungan ini cukup beragam diantaranya ada istilah circle, area, surroundings, sphere, domain, range, dan environment, yang artinya kurang lebih berkaitan dengan keadaan atau segala sesuatu yang ada di sekitar atau sekeliling.
Dalam literatur lain disebutkan bahwa lingkungan itu merupakan kesatuan ruang dengan semua benda dan keadaan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya serta makhluk hidup lainnya. Lingkungan itu terdiri dari unsur-unsur biotik (makhluk hidup), abiotik (benda mati) dan budaya manusia.
  1. Nilai-Nilai Lingkungan sebagai Sumber Belajar
Lingkungan yang ada di sekitar anak merupakan salah satu sumber belajar yang dapat dioptimalkan untuk pencapaian proses dan hasil pendidikan yang berkualitas bagi anak usia dini.
    1. Lingkungan menyediakan berbagai hal yang dapat dipelajari anak
Jumlah sumber belajar yang tersedia di lingkungan ini tidaklah terbatas, sekalipun pada umumnya tidak dirancang secara sengaja untuk kepentingan pendidikan. Sumber belajar lingkungan ini akan semakin memperkaya wawasan dan pengetahuan anak karena mereka belajar tidak terbatas oleh empat dinding kelas. Selain itu kebenarannya lebih akurat, sebab anak dapat mengalami secara langsung dan dapat mengoptimalkan potensi panca inderanya untuk berkomunikasi dengan lingkungan tersebut.
    1. Penggunaan lingkungan memungkinkan terjadinya proses belajar yang lebih bermakna (meaningfull learning) sebab anak dihadapkan dengan keadaan dan situasi yang sebenarnya. Hal ini akan memenuhi prinsip kekonkritan dalam belajar sebagai salah satu prinsip pendidikan anak usia dini.
    2. Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar akan mendorong pada penghayatan nilai-nilai atau aspek-aspek kehidupan yang ada di lingkungannya. Kesadaran akan pentingnya lingkungan dalam kehidupan bisa mulai ditanamkan pada anak sejak dini, sehingga setelah mereka dewasa kesadaran tersebut bisa tetap terpelihara.
    3. Penggunaan lingkungan dapat menarik bagi anak
Kegiatan belajar dimungkinkan akan lebih menarik bagi anak sebab lingkungan menyediakan sumber belajar yang sangat beragam dan banyak pilihan. Kegemaran belajar sejak usia dini merupakan modal dasar yang sangat diperlukan dalam rangka penyiapan masyarakat belajar (learning societes) dan sumber daya manusia di masa mendatang.
    1. Pemanfaatan lingkungan menumbuhkan aktivitas belajar anak (learning activities) yang lebih meningkat.
Penggunaan cara atau metode yang bervariasi ini merupakan tuntutan dan kebutuhan yang harus dipenuhi dalam pendidikan untuk anak usia dini.
Begitu banyaknya nilai dan manfaat yang dapat diraih dari lingkungan sebagai sumber belajar dalam pendidikan anak usia dini bahkan hampir semua tema kegiatan dapat dipelajari dari lingkungan. Namun demikian diperlukan adanya kreativitas dan jiwa inovatif dari para guru untuk dapat memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar.
Lingkungan merupakan sumber belajar yang kaya dan menarik untuk anak-anak. Lingkungan mana pun bisa menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak-anak.
Jika pada saat belajar di kelas anak diperkenalkan oleh guru mengenai binatang, dengan memanfaatkan lingkungan anak akan dapat memperoleh pengalaman yang lebih banyak lagi. Dalam pemanfaatan lingkungan tersebut guru dapat membawa kegiatan-kegiatan yang biasanya dilakukan di dalam ruangan kelas ke alam terbuka dalam hal ini lingkungan. Namun jika guru menceritakan kisah tersebut di dalam ruangan kelas, nuansa yang terjadi di dalam kelas tidak akan sealamiah seperti halnya jika guru mengajak anak untuk memanfaatkan lingkungan.
Memanfaatkan lingkungan sekitar dengan membawa anak-anak untuk mengamati lingkungan akan menambah keseimbangan dalam kegiatan belajar. Artinya belajr tidak hanya terjadi di ruangan kelas namun juga di luar ruangan kelas dalam hal ini lingkungan sebagai sumber belajar yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan fisik, keterampilan sosial, dan budaya, perkembangan emosional serta intelektual.

Perkembangan Fisik
Lingkungan sangat berperan dalam merangsang pertumbuhan fisik anak, untuk mengembangkan otot-ototnya. Anak memiliki kesempatan yang alami untuk berlari-lari, melompat, berkejar-kejaran dengan temannya dan menggerakkan tubuhnya dengna cara-cara yang tidak terbatas. Kegiatan ini sangat alami dan sangat bermanfaat dalam mengembangkan aspek fisik anak.
Dengan pemanfaatan lingkungan sebagai sumber beajarnya, anak-anak menjadi tahu bagaimana tubuh mereka bekerja dan merasakan bagaimana rasanya pada saat mereka memanjat pohon tertentu, berayun-ayun, merangkak melalui sebuah terowongan atau berguling di dedaunan.
Perkembangan aspek keterampilan sosial
Lingkungan secara alami mendorong anak untuk berinteraksi dengan anak-anak yang lain bahkan dengan orang-orang dewasa. Pada saat anak mengamati objek-objek tertentu yang ada di lingkungan pasti dia ingin mencritakan hasil penemuannya dengan yang lain. Supaya penemuannya diketahui oleh teman-temnannya anak tersebut mencoba mendekati anak yang lain sehinga terjadilah proses interaksi/hubungan yang harmonis.
Anak-anak dapat membangun kterampilan sosialnya ketika mereka membuat perjanjian dengan teman-temannya untuk bergantian dalam menggunakan alat-alat tertentu pada saat mereka memainkan objek-objek yang ada di lingkungan tertentu. Melalui kegiatan sepeti ini anak berteman dan saling menikmati suasana yang santai dan menyenangkan.
Perkembangan aspek emosi
Lingkungan pada umumnya memberikan tantangan untuk dilalui oleh anak-anak. Pemanfaatannya akan memungkinkan anak untuk mengembangkan rasa percaya diri yang positif. Misalnya bila anak diajak ke sebuah taman yang terdapat beberapa pohon yang memungkinkan untuk mereka panjat. Dengan memanjat pohon tersebut anak mengembangkan aspek keberaniannya sebagai bagian dari pengembangan aspek emosinya.
Rasa percaya diri yang dimiliki oleh anak terhadap dirinya sendiri dan orang lain dikembangkan melalui pengalaman hidup yang nyata. Lingkungan sendiri menyediakan fasilitas bagi anak untuk mendapatkan pengalaman hidup yang nyata.

Perkembangan intelektual
Anak-anak belajar melalui interaksi langsung dengan benda-benda atau ide-ide. Lingkungan menawarkan kepada guru kesempatan untuk menguatkan kembali konsep-konsep seperti warna, angka, bentuk dan ukuran.
Memanfaatkan lingkungan pada dasarnya adalah menjelaskan konsep-konsep tertentu secara alami. Konsep warna yang diketahui dan dipahami anak di dalam kelas tentunya akan semakin nyata apabila guru mengarahkan anak-anak untuk melihat konsep warna secara nyata yang ada pada lingkungan sekitar.
Demikian beberapa hal yang berkaitan dengan dampak pemanfaatan lingkungan terhadap aspek-aspek perkembangan anak. Namun guru juga harus memiliki pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan dalam mengembangkan pembelajaran anak dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajarnya. Adapun sumber belajar itu antara lain :
  • Mengamati apa yang menarik bagi anak
Biasanya anak serius jika menemukan sesuatu yang sangat menarik baginya. Bila guru melihat hal ini berilah bimbingan kepada anak dengan cara menayakan apa yang sedang diamatinya.
Manfaat yang bisa diambil dari kegiatan ini adalah anak dapat mengmbangkan kemampuan intelektualnya dengan mengetahui berbagai benda yang diamatinya. Selain itu juga anak akan dapat mengembangkan ketrampilan sosialnya yaitu dengan mengembangkan kemampuannya dengan berinteraksi dengan orang dewasa dalam hal ini guru.
Upaya guru dengan mengamati apa yang menarik bagi anak juga akan dapat mengembangkan emosi anak misalnya pada saat anak mengungkapkan hal-hal yang menarik baginya, dia menunjukkan ekspresi yang serius dan pandangan mata yang tajam. Kemampuan berbahsa anak juga akan semakin meningkat jika guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya mengungkapkan berbahasa anak, kosa katanya akan berkembang.
  • Perhatikan dan gunakan saat yang tepat untuk mengajar
Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar sebenarnya memberikan berbagai alternatif pendekatan dalam membelajarkan anak. Hal tersebut disebabkan alternatif dan pilihan sumber belajarnya sangat banyak. Dengan memanfaatkan lingkungan kegiatan belajar akan lebih berpusat pada anak.
  • Tanyalah anak dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan terbuka.
Memberikan pertanyaan kepada anak-anak mendorong mereka untuk menjelaskan mengenai berbagai hal yang mereka alami dan mereka lihat.
Pertanyaan yang bersifat terbuka akan memacu anak untuk mengungkap berbagai hal yang diamatinya secara bebas sesuai dengan kemampuan berbahasanya.
  • Gunakan kosa kata yang beragam untuk menjelaskan hal-hal baru
Anak-anak terkadang mengalami kekurangan perbendaharaan kata untuk menjelaskan apa yang mereka lihat. Keterbatasan kosa kata yang terjadi pada anak harus dibantu oleh guru sehingga tahap demi tahap kemampuan berbahasa dan perbendaharaan kosa katanya akan semakin meningkat.
  • Cobalah berskap lebih ingin tahu
Guru-guru tidak selamanya mengetahui jawaban-jawaban atas peertanyaan anak-anak. Guru yang mengetahui berbagai hal akan menumbuhkan keperecayaan anak kepadanya. Anak merasa memiliki orang yang dapat dijadikannya tempat bertanya mengenai hal-hal yang tidak dapat mereka pecahkan. Anak akan memiliki keyakinan yang tinggi kepada guru yang mau membantunya dalam segala hal. Sebaliknya jika guru tidak mengetahui banyak hal akan menimbulkan ketidakyakinan kepadanya karena setiap mereka menanyakn sesuatu anak tidak mendapatkan jawaban yang jelas dan memuaskan.
  1. Jenis-Jenis Lingkungan Sebagai Sumber Belajar
Pada dasarnya semua jenis lingkungan yang ada di sekitar anak dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan kegiatan pendidikan untuk anak usia dini sepanjang relevan dengan komptensi dasar dan hasil belajar yang bisa berupa lingkungan alam atau lingkungan fisik, lingkungan sosial dan lingkungan budaya atau buatan.
    1. Lingkungan alam
Lingkungan alam atau lingkungan fisik adalah segala sesuatu yang sifatnya alamiah, seperti sumber daya alam (air, hutan, tanah, batu-batuan), tumbuh-tumbuhan dan hewan (flora dan fauna), sungai, iklim, suhu, dan sebagainya.
Lingkungan alam sifatnya relatif menetap, oleh karena itu jenis lingkungan ini akan lebih mudah dikenal dan dipelajari oleh anak. Sesuai dengan kemampuannya, anak dapat mengamati perubahan-perubahan yang terjadi dan dialami dalam kehidupan sehari-hari, termasuk juga proses terjadinya.
Dengan mempelajari lingkungan alam ini diharapkan anak akan lebih memahami gejala-gejala alam yang terjadi dalam kehidupannya sehari-hari, lebih dari itu diharapkan juga dapat menumbuhkan kesadaran sejak awal untuk mencintai alam, dan mungkin juga anak bisa turut berpartisipasi untuk menjaga dan memelihara lingkungan alam.
    1. Lingkungan sosial
Selain lingkungan alam sebagaimana telah diuraikan di atas jenis lingkungan lain yang kaya akan informasi bagi anak usia dini yaitu lingkungan sosial.
Hal-hal yang bisa dipelajari oleh anak usia dini dalam kaitannya dengan pemanfaatan lingkungan sosial sebagai sumber belajar ini misalnya:
  1. mengenal adat istiadat dan kebiasaan penduduk setempat di mana anak tinggal.
  2. mengenal jenis-jenis mata pencaharian penduduk di sektiar tempat tinggal dan sekolah.
  3. Mengenal organisasi-organisasi sosial yang ada di masyarakat sekitar tempat tinggal dan sekolah.
  4. Mengenal kehidupan beragama yang dianut oleh penduduk sekitar tempat tinggal dan sekolah.
  5. Mengenal kebudayaan termasuk kesenian yang ada di sekitar tempat tinggal dan sekolah.
  6. Mengenal struktur pemerntahan setempat seperti RT, RW, desa atau kelurahan dan kecamatan.
Pemanfaatan lingkungan sosial sebagai sumber belajar dalam kegiatan pendidikan untuk anak usia dini sebaiknya dimulai dari lingkungan yang terkecil atau paling dekat dengan anak.
    1. Lingkungan budaya
Di samping lingkungan budaya dan lingkungan alam yang sifatnya alami, ada juga yang disebut lingkungan budaya atau buatan yakni lingkungan yang sengaja diciptakan atau dibangun manusia untuk tujuan-tujuan tertentu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Anak dapat mempelajari lingkungan buatan dari berbagai aspek seperti prosesnya, pemanfaatannya, fungsinya, pemeliharaannya, daya dukungnya, serta aspek lain yang berkenan dengan pembangunan dan kepentingan manusia dan masyarakat pada umumnya.
Agar penggunaan lingkungan ini efektif perlu disesuaikan dengan rencana kegiatan atau program yang ada. Dengan begitu, maka lingkungan ini dapat memperkaya dan memperjelas bahan ajar yang dipelajari dan bisa dijadikan sebagai laboratorium belajar anak.
  1. Prosedur Pemanfaatan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar
Apabila kita menginginkan anak memperoleh hail belajar yang banyak dan bermakna dari sumber beajr lingkungan, maka kita perlu membuatan persiapan ayang matang. Tanpa persiapan belajar anak tidak akan terkendali dngan baik senhingga akan berpengaruh terhadap terjadinya tujuan pendidikan yang diharapkan.
Perlu kita ketahui bahwa ada tiga langkah prosedur yang bisa ditempuh dalam menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk anak usia dini ini yaitu :
    1. langkah perencanaan
    2. langkah pelaksanaan
    3. langkah tindak lanjut (follow up)
  1. Langkah Perencanaan
Perencanaan menempati bagian yang penting. Melalui perencanaan yang matang, yang disusun secara sistematik, dalam pola pemikiran yang menyeluruh akan memberi landasan yang kuat dalam melaksanakan kegiatanm-kegiatan pendidikan khususnya untuk anak usia dini.
Guru selaku pengelola kegiatan belajar harus mengetahui dan memahami tentang apa-apa yang harus direncanakan.

Senin, 01 April 2013

PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU TP 2013-2014

Paud TPQ Nuurul Falaah membuka pendaftaran penerimaan peserta didik baru Tahun Pelajaran 2013-2014.  Paud TPQ Nuurul Falaah adalah lembaga pendidikan anak usia dini yang mengintegrasikan layanan pendidikan anak usia dini dengan layanan Taman Pendidikan Al Qur'an.  PAUD TPQ Nuurul Falaah PAUD berbasis Taman Pendidikan Al-Qur'an yang pertama kali berdiri di kelurahan Sunter Jaya Jakarta Utara.   Tepat kiranya bagi Bapak/Ibu calon peserta didik untuk mendaftarkan putra/putrinya pada Paud TPQ Nuurul Falaah, karena disamping diberikan pembinaan melalui pendidikan untuk pengembangan 6 aspek pada anak usia dini juga diberikan pendidikan pengembangan moral dan agama dalam porsi yang cukup besar.  Harapannya adalah setiap peserta didik mendapat layanan yang optimal guna merangsang kecerdasan dan tumbuh kembangnya serta menjadi insan yang berakhlakul karimah.
Guna menyambut Tahun Pelajaran 2013/2014, kami pengelola terus berbenah diri dengan melakukan berbagai persiapan, diantaranya ; penambahan ruang kelas baru  beserta mebeler nya yang digunakan untuk kelompok "Ta" usia 5-6 tahun.  Penambahan ruang kelas baru ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan ruang kelas agar kegiatan belajar mengajar dapat berjalan efektif, efesien dan optimal.  Kami yakin minat masyarakat untuk menyekolahkan putra putri nya pada PAUD TPQ Nuurul Falaah, hal ini mengingat adanya kecenderungan para orang tua menginginkan anaknya tidak hanya mendapatkan stimulant pada berbagai aspek perkembangan anak usia dini, tetapi juga stimulan pada aspek moral dan agama dalam jumlah porsi yang lebih besar.

 

Penambahan satu ruang kelas Baru untuk kelompok "Ta" usia 5-6 tahun


              


Ruang kelas yang semula digunakan secara paralel kini difungsikan untuk 
kelompok "Alif" dan "Ba"

Kesiapan infrastruktur sekolah juga diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia.  Untuk pendidik dan pengelola berkualifikasi Sarjana PAUD dengan pengalaman mengajar lebih dari 5 tahun di bidang PAUD, Sarjana Tarbiyah, dan saat ini dalam proses pendidikan untuk kualifikasi Bimbingan Konseling.
Bagi bapak/ibu yang berminat mendaftarkan anaknya untuk menempuh pendidikan di PAUD TPQ Nuurul Falaah dapat menghubungi panitia.        Pendaftaran dibuka sejak tanggal 1 April 2013 di sekretariat Yayasan Nuurul Falaah Sunter, Jl. Sunter Bentengan No. 
26 RT 005/05 Kel. Sunter Jaya, setiap hari Senin sampai dengan Jum'at, pukul 08.00 WIB s/d pukul 10.00 WIB. 

Jumat, 25 Januari 2013

Gangguan Kesulitan Belajar (Disleksia)

Gangguan kesulitan belajar adalah suatu gangguan yang mempengaruhi kemampuan otak untuk menerima, memproses, menganalisa atau menyimpan suatu informasi. Adanya masalah-masalah tersebut dapat menyebabkan seorang anak menjadi kesulitan untuk menyerap pelajaran secepat teman-temannya yang lain. Gangguan kesulitan belajar banyak jenisnya, ada yang menyebabkan seseorang mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi atau fokus pada sesuatu, atau ada juga jenis gangguan kesulitan belajar yang menyebabkan seseorang mengalami kesulitan untuk membaca, menulis, mengeja atau mengerjakan soal matematika.

Ketika seorang anak didiagnosa mengalami gangguan kesulitan belajar, bukan berarti ia adalah anak yang bodoh. Karena gangguan kesulitan belajar tidak berhubungan dengan intelegensia seseorang, dan lagi banyak orang-orang sukses yang juga dikenal memiliki gangguan kesulitan belajar seperti : Walt Disney, Alexander Graham Bell dan Winston Churchill. 

Kebanyakan gangguan kesulitan belajar dibagi menjadi 2 yaitu verbal & non-verbal. Berikut penjelasan yang medicastore ambil dari kidshealth.org : 
• Gangguan secara verbal
Orang yang mengalami gangguan kesulitan belajar jenis verbal akan mengalami kesulitan dengan kata-kata, baik secara lisan ataupun tulisan. Salah satu gangguan kesulitan belajar yang paling dikenal adalah dyslexia. Pada orang yang mengalami dyslexia, maka ia akan mengalami kesulitan untuk mengenal suatu kata atau memproses huruf dan bunyi yang berhubungan dengan kata tersebut. 

• Gangguan non-verbal
Orang yang mengalami gangguan kesulitan belajar non-verbal akan mengalami kesulitan untuk memproses sesuatu yang mereka lihat, misalnya angka, tanda +, - , x atau : pada soal matematika. 

Kali ini medicastore mencoba membahas mengenai salah satu gangguan kesulitan belajar yaitu dyslexia. Menurut U.S. National Institutes of Health, dyslexia adalah ketidakmampuan belajar yang dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, mengeja suatu kata bahkan berbicara. Tingkat dyslexia yang bisa dialami seseorang dapat bervariasi, mulai dari yang ringan sampai berat. Akan tetapi semakin cepat dyslexia dapat terdiagnosa & diatasi, hasil yang diharapkan juga akan semakin terlihat. Dyslexia sendiri tidak disebabkan karena adanya gangguan pada telinga atau penglihatan, tetapi disebabkan karena otak mengalami gangguan untuk mengartikan gambar/image yang diterima oleh mata & telinga menjadi bahasa yang dimengerti.

Pada orang yang mengalami dyslexia, maka kata-kata yang sederhana pun akan menjadi susah untuk dibaca, bahkan bila dilihat beberapa kali. Kata-kata yang terlihat juga dapat bercampur dengan kata-kata lain atau menjadi keliru dibaca, misalnya saja kata “nakal” menjadi “kanal” atau “dia” menjadi “adi”, dan huruf-huruf menjadi satu seperti tidak ada spasi. Berikut contoh kalimat yang mungkin dilihat oleh penderita dyslexia :


Bagi yang mengalami dyslexia, kadang susah untuk mengingat sesuatu yang mereka baca, kadang akan menjadi lebih mudah bagi mereka untuk mengingat apabila informasi tersebut dibacakan & didengar oleh mereka.


Ada beberapa tipe dyslexia yang dapat mempengaruhi kemampuan mengeja & membaca beserta penyebabnya, seperti berikut ini yang medicastore ambil dari medicinenet.com . 

  • Trauma dyslexia.  Biasanya terjadi akibat adanya trauma atau luka pada bagian otak yang mengontrol cara untuk membaca & menulis. 
  • Dyslexia primer.  Disebabkan karena tidak berfungsinya bagian otak kiri (cerebral cortex) & tidak berubah karena usia. Orang yang mengalami jenis dyslexia ini sangat jarang bisa membaca dengan lancar, bahkan hingga dewasa. Dyslexia primer ini dapat diturunkan secara genetik & biasanya lebih banyak dialami oleh pria daripada wanita. 
  • Dyslexia sekunder.  Jenis ini disebabkan oleh pembentukan hormon yang kurang sempurna pada saat perkembangan awal janin. Dyslexia sekunder ini akan menghilang seiring bertambahnya usia anak, serta lebih sering terjadi juga pada anak laki-laki. 
Orangtua atau guru dapat menduga seorang anak mengalami dyslexia, jika ia mengalami hal-hal berikut ini yang medicastore ambil dari kidshealth.org : 

  • Kemampuan membaca yang buruk, meskipun memiliki kepintaran yang normal. 
  • Kemampuan mengeja & menulis yang buruk. 
  • Mengalami kesulitan untuk menyelesakan tugas atau tes sesuai batas waktunya. 
  • Mengalami kesulitan untuk mengingat nama suatu benda. 
  • Mengalami kesulitan untuk mengingat daftar tulisan atau nomor telepon. 
  • Mengalami kesulitan dalam menentukan arah atau membaca peta.
Jika ada seseorang yang mengalami masalah-masalah tersebut di atas, bukan berarti ia menderita dyslexia. Tetapi sebaiknya dilakukan tes untuk mengetahui kondisinya. Suatu pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya masalah medis, termasuk tes pendengaran & penglihatan. Kemudian psikolog sekolah atau orang yang ahli mengenai pembelajaran dapat memberikan tes terstandar untuk mengukur kemampuan berbicara, membaca, mengeja & menulis.

Jika anak terdiagnosa mengalami dyslexia atau gangguan kesulitan belajar lainnya, maka berikut beberapa tips untuk orang tua, yang medicastore ambil dari mayoclinic.com : 
  • Selalu berikan dukungan pada anak. Memiliki dyslexia atau gangguan kesulitan belajar lainnya dapat membuat anak menjadi rendah diri. Berikan selalu dukungan & cinta untuk mendukung setiap kemampuannya. 
  • Bicarakan dengan anak. Beritahukan kepada anak apa yang dimaksud dengan dyslexia, bahwa hal tersebut bukanlah suatu kesalahannya. Dengan membantu anak memahami hal tersebut, maka ia akan menjadi lebih mudah untuk mengatasi hal tersebut. 
  • Buatlah keadaan rumah menjadi tempat belajar yang mudah untuk anak. Sediakan ruangan yang sepi & terorganisasi sebagai tempat belajar anak. Atur jadwal belajar yang nyaman & berikan dukungan dari seluruh anggota keluarga untuk membantu proses belajar anak. 
  • Kerjasama dengan sekolah tempat anak belajar. Sering berkomunikasi dengan guru di sekolahnya untuk memastikan anak tidak tertinggal pelajarnya, bila memungkinkan minta rekaman/salinan bahan pelajaran hari itu untuk dipelajari nanti sepulang sekolah atau les khusus untuk membantunya belajar.
Diolah dari berbagai sumber (Teguh Iman Santoso)

Jumat, 07 Desember 2012

Unjuk Kemampuan Santri PAUD TPQ Nuurul Falaah

Tanggal 25 November 2012 Yayasan Nuurul Falaah Sunter menyelenggara -kan Peringatan 10 Muharram 1434 Hijriah. Acara diisi diantaranya dengan penampilanQ-Mbeling, santunan kepada Yatim Piatu binaan Yayasan Nuurul Falaah Sunter, penampilan seni berupa drama musikal oleh Yatim Piatu dan unjuk kemampuan santri Paud TPQ Nuurul Falaah melalui pembacaan Ikrar Santri, Nasyid, dan pembacaan ayat suci Al Qur'an. Unjuk kemampuan ini dimaksudkan sebagai salah satu upaya menggali potensi peserta didik tentang apa yang telah mereka dapatkan selama menjadi santri Paud TPQ Nuurul Falaah, sekaligus memberikan gambaran kepada jamaah yang hadir bahwa begitu seriusnya PAUD TPQ Nuurul Falaah menanamkan Akidah Islam kepada peserta didiknya.
Keseriusan ini sebagai wujud komitmen pada Visi dan Misi Paud TPQ Nuurul Falaah mendidik santri Paud yang berakhakul Karimah menuju generasi Qur'ani yang Sehat, Cerdas dan Ceria. Terlepas dari konteks diatas kami mencoba untuk membangun rasa percaya diri santri untuk tampil di muka umum, tampil dihadapan kedua orang tuanya, tampil dihadapan teman sebayanya. Niscaya rasa kebanggaan ada pada diri santri dan orang tuannya. Inilah anak-anak yang penuh dan kejutan dan spontanitas, ada saja tingkah laku yang membuat para hadirin tersenyum karena ada salah satu santri yang memanggil orang tuanya pada saat di atas pentas "Mama-mama, lihat dong aku ada di panggung", katanya. Spontan kami tersenyum. Inilah dunia anak-anak.




Teguh Iman Santoso

Sekretaris Lembaga Paud TPQ Nuurul Falaah



Manasik Haji Santri Paud TPQ Nuurul Falaah



Tanggal 28 November 2012 bertempat di Jakarta Islamic Center Koja Jakarta Utara santri Paud TPQ Nuurul Falaah berpartisipasi dalam kegiatan Manasik Haji yang diselenggarakan oleh Himpaudi Jakarta Utara, Forum Paud dan Dikmen Kota Adm. Jakarta Utara. Paud TPQ Nuurul Falaah mengirimkan 20 orang santri putra dan putri dari kelompok Ta (Kelompok umur 5-6 tahun) pada kegiatan tersebut.


Kegiatan Manasik Haji pada tahun ini adalah pertama kalinya diikuti oleh Paud TPQ Nuurul Falaah, dikarenakan pada tahun pelajaran 2012-2013 adalah tahun kedua berdirinya Paud Taman Pendidikan Al Qur'an Nuurul Falaah dimana jumlah santri kelompok Ta cukup memadai mengikuti kegiatan tersebut. Alhamdulillah, kegiatan Manasik Haji ini akan memberikan sentuhan langsung kepada para santri paud seakan-akan mereka menjadi jamaah haji sungguhan sehingga memberi nuansa kegembiraan dan pengalaman baru kepada para santri.


Para santri Paud TPQ Nuurul Falaah yang berbasis pada layanan Taman Pendidikan Al Qur'an melaksnakan kegiatan pembelajaran yang sangat dominan dalam materi tata cara ibadah, hapalan surat pendek dan pengenalan baca tulis Al Qur'an sehingga menjadi suatu pembiasaan dalam proses belajar mengajar.

Berikut dokumentasi kegiatan manasik haji Paud TPQ Nuurul Falaah.





Teguh Iman Santoso
Sekretaris Lembaga Paud TPQ Nuurul Falaah








Sabtu, 12 Mei 2012

PENGEMBANGAN KECERDASAN JAMAK PADA ANAK USIA DINI MELALUI BERMAIN PERAN

BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Peningkatan kecerdasan  pada Anak Usia Dini adalah hal yang penting dilakukan . Disebut Anak Usia Dini yaitu anak yang berumur  0- 6 tahun. Usia tersebut  merupakan usia keemasan (Golden Age ) dimana dalam masa tersebut proses anak akan mengalami perkembangan pada dirinya baik itu fisik, intelektual, sosial emosional maupun bahasa.
Pemahaman tentang penting nya masa usia Dini, berdampak pada kebijakan pemerintah saat ini. Salah satu kebijakan tersebut dengan UU RI Nomor 20 tahun 2003  tentang  sistem Pendidikan Nasional yang isinya sebagai berikut : Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif  mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritiual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Secara khusus PAUD bertujuan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan yang lebih lanjut.  Berkaitan dengan optimalisasi perkembangan pada Anak Usia Dini (AUD) diperlukan suatu metode pembelajaran yang dapat menstimulus kecerdasannya. Seperti yang kita ketahui kecerdasan masing –masing anak  memiliki kecerdasan berbeda-beda tetapi perlu kita sadari bahwa  setiap anak nantinya  mempunyai kecenderungan untuk memiliki salah satu kecerdasan yang menonjol dibandingkan dengan kecerdasan lainnya. Menurut Howard Gardner,  kecerdasan  tidak hanya tunggal, tetapi masing-masing individu  memiliki kecerdasan berbeda-beda, yang disebut sebagai kecerdasan majemuk (multiple intelligence). Kecerdasan majemuk bisa dirinci menjadi delapan kecerdasan, yaitu:
a.       Kecerdasan Linguistik, berkaitan dengan kemampuan membaca, menulis, berdiskusi, berargumentasi dan berdebat.
b.      Kecerdasan Matematis-Logis, berkaitan dengan kemampuan berhitung, menalar dan berpikir logis, memecahkan masalah.
c.       Kecerdasan Visual-Spasial, berkaitan dengan kemampuan menggambar, memotret, membuat patung, mendesain.
d.      Kecerdasan Musikal, berkaitan dengan kemampuan menciptakan lagu, mendengar nada dari sumber bunyi atau alat-alat musik.
e.       Kecerdasan kinestetik, berkaitan dengan kemampuan gerak motorik dan keseimbangan.
f.       Kecerdasan Interpersonal, berkaitan dengan kemampuan bergaul dengan orang lain, memimpin, kepekaan soasial, kerja sama dan empati.
g.       Kecerdasan Intrapersonal, berkaitan dengan pemahaman terhadap diri sendiri, motivasi diri, tujuan hidup dan pengembangan diri.
h.      Kecerdasan Naturalis, berkaitan dengan kemampuan meneliti perkembangan alam, melakukan identifikasi dan observasi terhadap lingkungan sekitar.
Berdasarkan dari uraian diatas dapat kita ketahui betapa pentingnya mengembangkan kecerdasan jamak yang di mulai dari Anak Usia Dini. Sehingga nantinya kelak menjadi modal dasar kesuksesan yang menjadi bekal hidup pada usia dewasa nanti. Dengan demikian betapa pentingnya pengembangan kecerdasan dalam pembelajaran pendidikan Anak Usia Dini. Kita harus selalu menstimulus dengan  kegiatan- kegiatan atau pembelajaran yang mendukung  karakteristik dan porsi Anak Usia Dini.

B.     Masalah
Berdasakan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas maka akan disampaikan pada karya ilmiah ini tentang bagaimana cara pengembangan kecerdasan jamak pada Anak Usia Dini (AUD).
C.     Tujuan
Mengembangkan kecerdasan majemuk anak merupakan kunci utama untuk kesuksesan masa depan anak . Maka dari itu  tujuan dari pengembangan kecerdasan jamak pada Anak Usia Dini untuk mengembangkan dan  meningkatkan  kecerdasan dasar yang dimiliki setiap anak. Melatih anak meningkatkan kecerdasan jamak dan menstimulasi nya. Jika anak sering dilatih dan difasilitasi untuk mengembangkan kecerdasan nya maka akan terlihat kecenderungan yang menonjol dari salah satu kecerdasan jamak tersebut dalam diri anak..
D.     Manfaat
Mengembangkan kecerdasan jamak pada anak  usia dini maka akan meningkatkan kecerdasan pada diri anak tersebut, seperti yang kita ketahui anak tidak luput dengan kegiatan bermain. Sehingga dalam bermain anak harus ada unsur pendidikan untuk menstimulasi kecerdasannya. Tetapi tetap diolah dan ditampilkan semenarik mungkin. Jadi anak nyaman bermain sekaligus belajar. Jika sering menstimulus nantinya kita akan tahu bakat anak dilihat dari  kecenderungan yang menonjol salah satu dari  kecerdasan jamak tersebut, yang akan menjadikan bekal  dasar  demi meraih kesuksesan hidup pada diri anak setelah tumbuh menjadi  orang dewasa.  Membangun kecerdasan anak adalah ibarat membangun sebuah  rumah yang mempunyai  beberapa pilar  tembok atau kayu sebagai penyangganya.  Jika membangun pilar tembok semakin kokoh rumah tersebut berdiri. 

 BAB II
LANDASAN TEORI
A.     Pengertian Kecerdasan Jamak
Kecerdasan majemuk atau jamak  (Multiple Intelligences) yang mencakup delapan kecerdasan itu pada dasarnya merupakan pengembangann dari kecerdasan otak (IQ), kecerdasan emosional (EQ). Semua jenis kecerdasan perlu dirangsang pada diri anak sejak usia dini (AUD), mulai dari saat lahir hingga awal memasuki sekolah (7-8 tahun).
 Konsep Multiple Intelegensi (MI), menurut Gardner (1983) dalam bukunya Frame of Mind: The Theory of Multiple intelegences, ada delapan jenis kecerdasan yang dimiliki setiap individu yaitu : Linguistik, matematis-logis, spasial, kinestetik-jasmani, musikal, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Melalui delapan jenis kecerdasan ini, setiap individu mengakses informasi yang akan masuk ke dalam dirinya.
Karena itu Amstrong (2002) menyebutkan, kecerdasan tersebut merupakan modalitas untuk melejitkan kemampuan setiap anak  dan menjadikan mereka sebagai sang juara, karena pada dasarnya setiap anak cerdas. Sebelum menerapkan kecerdasan jamak (MI) sebagai suatu strategi dalam pengembangan potensi seseorang, perlu kita kenali atau pahami ciri-ciri yang dimiliki :
1.      Kecerdasan Linguistik, umumnya memiliki ciri antara lain : (a) suka menulis kreatif, (b) suka mengarang kisah khayal atau menceritakan lelucon, (c) sangat hafal nama, tempat, tanggal atau hal-hal kecil, (d) membaca di waktu senggang, (e) mengeja kata dengan tepat dan mudah, (f) suka mengisi teka-teki silang, (f) menikmati dengan cara mendengarkan, (g) unggul dalam mata pelajaran bahasa (membaca, menulis dan berkomunikasi).
2.      Kecerdasan Matematika-Logis, cirinya antara lain: (a) menghitung problem aritmatika dengan cepat di luar kepala, (b) suka mengajukan pertanyaan yang sifatnya analisis, misalnya mengapa hujan turun?, (c) ahli dalam permainan catur, halma dsb, (d) mampu menjelaskan masalah secara logis, (d) suka merancang eksperimen untuk membuktikan sesuatu, (e) menghabiskan waktu dengan permainan logika seperti teka-teki, berprestasi dalam Matematika dan IPA.
3.      Kecerdasan Spasial mempunyai ciri – ciri  antara lain: (a) memberikan gambaran visual yang jelas ketika menjelaskan sesuatu, (b) mudah membaca peta atau diagram, (c) menggambar sosok orang atau benda persis aslinya, (d) senang melihat film, slide, foto, atau karya seni lainnya, (e) sangat menikmati kegiatan visual, seperti teka-teki atau sejenisnya, (f) suka melamun dan berfantasi, (g) mencoret-coret di atas kertas atau buku tugas sekolah, (h) lebih memahamai informasi lewat gambar daripada kata-kata atau uraian, (i) menonjol dalam mata pelajaran seni.
4.      Kecerdasan Kinestetik-Jasmani, memiliki ciri: (a) banyak bergerak ketika duduk atau mendengarkan sesuatu, (b) aktif dalam kegiatan fisik seperti berenang, bersepeda, hiking atau skateboard, (c) perlu menyentuh sesuatu yang sedang dipelajarinya, (d) menikmati kegiatan melompat, lari, gulat atau kegiatan fisik lainnya, (e) memperlihatkan keterampilan dalam bidang kerajinan tangan seperti mengukir, menjahit, memahat, (f) pandai menirukan gerakan, kebiasaan atau prilaku orang lain, (g) bereaksi secara fisik terhadap jawaban masalah yang dihadapinya, (h) suka membongkar berbagai benda kemudian menyusunnya lagi, (i) berprestasi dalam mata pelajaran olahraga dan yang bersifat kompetitif.
5.      Kecerdasan Musikal memiliki ciri antara lain: (a) suka memainkan alat musik di rumah atau di sekolah, (b) mudah mengingat melodi suatu lagu, (c) lebih bisa belajar dengan iringan musik, (d) bernyanyi atau bersenandung untuk diri sendiri atau orang lain, (e) mudah mengikuti irama musik, (f) mempunyai suara bagus untuk bernyanyi, (g) berprestasi bagus dalam mata pelajaran musik.
6.      Kecerdasan Interpersonal memiliki ciri antara lain: (a) mempunyai banyak teman, (b) suka bersosialisasi di sekolah atau di lingkungan tempat tinggalnya, (c) banyak terlibat dalam kegiatan kelompok di luar jam sekolah, (d) berperan sebagai penengah ketika terjadi konflik antartemannya, (e) berempati besar terhadap perasaan atau penderitaan orang lain, (f) sangat menikmati pekerjaan mengajari orang lain, (g) berbakat menjadi pemimpin dan berperestasi dalam mata pelajaran ilmu sosial.
7.      Kecerdasan Intrapersonal memiliki ciri antara lain: (a) memperlihatkan sikap independen dan kemauan kuat, (b) bekerja atau belajar dengan baik seorang diri, (c) memiliki rasa percaya diri yang tinggi, (d) banyak belajar dari kesalahan masa lalu, (e) berpikir fokus dan terarah pada pencapaian tujuan, (f) banyak terlibat dalam hobi atau proyek yang dikerjakan sendiri.
8.      Kecerdasan Naturalis, memiliki ciri antara lain: (a) suka dan akrab pada berbagai hewan peliharaan, (b) sangat menikmati berjalan-jalan di alam terbuka, (c) suka berkebun atau dekat dengan taman dan memelihara binatang, (d) menghabiskan waktu di dekat akuarium atau sistem kehidupan alam, (e) suka membawa pulang serangga, daun bunga atau benda alam lainnya, (f) berprestasi dalam mata pelajaran IPA, Biologi, dan lingkungan hidup.
Dari delapan uraian diatas, penulis menyadari betapa pentingnya pengembangan kecerdasan jamak sejak Anak Usia Dini (AUD). Tetapi melalui metode menyenangkan namun tetap ada unsur untuk mengembangkan kecerdasan jamak di dalamnya. Agar mencakupi kecerdasan jamak, penulis menggunakan pembelajaran dengan  bermain peran. Melalui pengalaman main peran, anak diberi kesempatan untuk menciptakan kembali kejadian kehidupan nyata dan memerankannya secara simbolik.  Bermain identik dengan dunia anak, dengan bermain anak beraktivitas dan bersosialisasi dengan lingkungan.  Bermain merupakan kebutuhan dasar bagi proses tumbuh kembang anak.  Bermain dapat menumbuhkan imajinasi dan kreativitas anak sesuai dengan tingkat perkembangannya.  Melalui bermain anak mendapatkan pengalaman, pengetahuan dan keterampilan.  Banyak cara untuk melakukan kegiatan permainan tersebut.  Ada yang menggunakan media atau alat, ada juga yang tidak. Salah satu jenis main yang perlu diperkenalkan pada anak adalah main peran.

B.     Pengertian Bermain Peran
Menurut Sarra Smilanky, Main peran adalah kegiatan anak menghadirkan pengalaman yang pernah didapatkannya dengan menunjukkan kembali melalui bermain pura-pura. Bermain peran akan membuat anak berkemampuan sosial. Sambil bermain peran  ikut belajar berbagi, belajar mengantri atau bergiliran, dan berkomunikasi dengan teman-temannya .Kemampuan mengelola emosi, termasuk untuk memahami perasaan takut, kecewa, sedih, marah dan cemburu. Anak akan belajar mengelola dan memahami perasaan – perasaan tersebut. mengasah kreativitas dan  disiplin, biasanya anak akan mengambil peraturan dan pola hidupnya sehari- hari dan kebiasaan si anak atau orang tua bahkan orang dewasa di lingkungan terdekat anak. Serta mengasah kecerdasan linguistik yaitu kemampuan berbahasa hal itu terlatih secara tidak langsung akan bertemu dengan lawan mainnya pada saat bermain peran. 





                                                               BAB III
METODE DAN PROSEDUR KERJA


A.     Strategi Pemecahan Masalah
1.      Alasan pemilihan strategi pemecahan masalah
Strategi yang akan digunakan dalam pengembangan kecerdasan jamak pada Anak Usia Dini melalui kegiatan bermain peran. Kegiatan bermain identik dengan anak- anak. Karena bermain adalah kegiatan yang menyenangkan sehingga anak tertarik untuk terlibat. Tapi kegiatan bermain yang didalam nya mengandung unsur pendidikan. Penulis memilih kegiatan bermain peran.  Main peran memberikan kesempatan pada anak untuk memainkan peran-peran yang beragam dengan tujuan agar mereka mengerti, menghormati dan memiliki empati akan peran-peran yang ada disekitar mereka serta sikap-sikap positif lainnya pada diri anak, yang merupakan bekal mereka dalam interaksi sosial di masyarakat pada kehidupannya.

2.      Deskripsi strategi pemecahan masalah yang dipilih, meliputi:
a.       Strategi pembelajaran melalui bermain peran, dengan bermain peran anak berlatih dan memainkannya lengkap dengan skenario yang disusun seketika dan dimainkannya bersama sama dalam satu session. Dalam bermain peran ada dua jenis main peran, yaitu main peran mikro dan makro. Peran mikro adalah kegiatan bermain peran dengan menggunakan bahan –bahan berukuran  kecil. Peran makro adalah kegiatan bermain peran sesungguhnya dengan alat – alat permainan berukuran sesungguhnya dan anak dapat menggunakannya untuk menciptakan dan memainkan peran-peran. 
b.      Sebelum bermain peran guru memberikan pijakan –pijakan sebelum bermain, yaitu:
Ø  Guru membacakan buku yang terkait dengan tema
Ø  Mengenalkan kosakata baru dan peran peran
Ø  Menjelaskan urutan kegiatan main peran menjelaskan cara menggunakan alat.
Ø  Menetapkan peran yang akan dimainkan
Ø  Mengajak pemain lainnya.
Ø  Memperkuat dan memperluas bahasa anak.
Ø  Memberikan contoh komunikasi yang tepat.

B.     Alat Pengambilan Data
Dalam pengambilan data akan melakukan:
1.      Observasi terhadap perilaku anak ketika sedang bermain peran dan penulis akan menyiapkan daftar observasi yaitu dengan chek  list yang mana berdasarkan dari kegiatan anak yang bermain peran.
2.      Tanya jawab , tetapi dalam tanya jawab ini berbentuk tidak resmi. Karena disesuiakan dengan karakteristik anak dan diajukan dengan senyaman mungkin bagi anak. Sehingga anak akan tetap menikmati kegiatan bermainnya. Serta pertanyaan yang sesuai diperankan.
3.      Dokumen, penulis akan mengambil gambar anak –anak yang sedang beramin peran sebagai bukti otentik apakah anak- anak nyaman atau tidak dalam bermain perannya.

C.     Pengolahan dan Penganalisisan Data
Setelah dilakukan pengambilan data dengan observasi terhadap peilaku anak ketika sedang bermain peran yang meliputi : main sendiri, main berdampingan, main bersama dan main kerja sama. Dari hasil tanya jawab yang diajukan penulis bisa menarik kesimpulan dari kegiatan bermain peran anak. Serta bisa diambil catatan kejadian ketika anak bermain peran. Selain  itu juga akan diketahui hasil pengamatan terhadap interaksi sosial yang muncul, yaitu perilaku peduli atau tidak peduli dengan lawan mainnya. Dokumen menjadi pendukung tambahan dari kegiatan tersebut.




 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.     Keunikan ide atau gagasan
Keunikan ide dalam kegiatan bermain peran ini, penulis menyajikan muatan lokal kota Pekalongan yaitu batik. Anak –anak akan melakukan kegiatan bermain peran mengunjungi Museum batik. Jadi, anak bisa melakukan kegiatan bermain sekaligus mengenal dan memahami tentang batik sebagai ciri khas budaya dari daerah Pekalongan sebagaimana  sudah dijadikan muatan lokal yang digunakan untuk pembelajaran di sekolah- sekolah. Tetapi penulis menyusun dan mengolah kegiatan, peran sesuai dengan porsi, karakteristik  Anak Usia Dini. Berikut ini Prosedur kegiatan bermain peran:
a.       Tahap perencanaan.
Ø Menentukan tema dan sub tema. 
Ø Tema: Rekreasi, dengan sub tema : Berkunjung ke Museum Batik Pekalongan.
Ø Menentukan jenis permainan peran yang akan digunakan (main peran mikro atau peran makro).
Ø Main peran makro: -     Anak bermain peran petugas penjaga loket.
-     Alat yang digunakan: tiket masuk, cap stempel.
-     Anak berperan sebagai penjaga stand yang bertugas memberi informasi dan penjelasan tentang masing- masing stand.
-     Sebagai penjaga galeri dan kasir.
-     Sebagai penjual dan pembeli di cafetaria dan galeri.
Ø Menentukan durasi waktu yang akan digunakan :
 peneliti menyarankan 1 jam.
Ø Menyiapkan ruangan sehingga perabotan dan peralatan tidak terlalu sesak, alat-alat mudah dijangkau.  Peran makro: ruangan kelas dibagi menjadi empat stand, yaitu :
Stand batik tulis,  stand batik cap, stand galeri batik, cafetaria.
Ø  Menyiapkan alat- alat untuk mendukung adegan permainan.
Stand batik tulis: alat – alat pendukung peran mikro dan makro, yaitu canting tulis, kompor kecil, wajan kecil, bahan pendukung: lilin malam, kain mori, kain batik tulis.
Stand batik cap: alat – alat pendukung peran mikro dan makro yaitu canting cap, kompor kecil, meja, bahan pendukung: kain mori putih, kain batik cap.
Galeri batik dengan menggunakan alat dan bahan mikro dan makro: baju- baju batik, kain- kain batik, handycraft batik, tas  plastik.
Main peran mikro: uang mainan.

B.     Keinovasian Ide atau gagasan
Penulis menghadirkan keinovasian dalam kegiatan bermain peran ini, yaitu:
Menyiapkan ruangan dengan menyetting seperti di museum batik dengan di dukung peralatan nya. Pada loket masuk didukung dengan cap stempel, tiket masuk.
Pada stand batik tulis,  di dukung dengan menghadirkan canting tulis, kompor kecil,  wajan keci, kain mori, kain batik. Tetapi penulis memberikan inovasi pada stand tersebut, yaitu dengan menggunakan botol kecap kecil terbuat dari plastik, hal itu memudahkan anak berperan sedang membatik, lilin malam di ganti dengan lem tembok atau tepung ditambah pewarna. Penulis akan meyediakan 3 warna pokok, merah, biru, kuning. Hal itu melatih anak mengenal warna, membuat kreasi warna ketika warna-warna tersebut dicampurkan. Kain mori di ganti dengan kertas manila putih karena untuk memudahkan anak belajar membatik tulis.
Pada stand batik cap  beri inovasi yaitu dengan menggunakan canting cap kayu yang dibuat ukuran kecil sesuai jangkauan anak- anak. Pewarna yang aman bagi anak- anak, kapas. Kain mori putih yang berukuran sesuai anak- anak. Pada galeri batik penulis akan menyiapkan berbagai macam handycraft dan pakaian- pakaian batik. Sehingga anak mengenal dan memahami hasil batik bisa dibuat untuk berbagai macam benda. Juga kreasi hasil batik.
Dalam masing- masing peran dapat melatih anak untuk mengembangkan kecerdasan jamak, sehingga hasil yang akan dicapai yaitu:  
Ø  Kecerdasan seni: menciptakan kreativitas yang dapat diperoleh dari membatik tulis. Melatih kreativitas mencampur 3 warna pokok menjadi warna-warna lain. Hal itu juga melatih imajinasi anak untuk menciptakan warna baru.   
Ø  Bermain peran membuat anak mengembangkn kecerdasan, dengan  menemukan beragam kosakata yang akan memperkaya perbendaharaan kata mereka. Belajar bercakap- cakap menggunakan kalimat yang sopan dan tepat, karena  berkomunikasi dengan lawan mainnya, teman temanya.
Ø  Bersosialisasi yang baik sehingga melatih anak mempunyai teman bermain yang akrab. Hal itu bisa dilakukan anak berperan sebagai penjaga di masing- masing stand museum batik
Ø  Melatih anak membuat bentuk- gambar alam sehingga mengembangkan kecerdasan naturalis. Kecerdasan matematis yaitu berperan sebagai penjual dan pembeli di stand galeri dan cafetaria.   

C.     Kendala – kendala yang dihadapi dalam menerapkan ide atau gagasan.
Ketersediaan alat – alat dan bahan pendukung yang menunjang dalam bermain peran. Memilih bahan – bahan yang aman dan sesuai dengan karakteristik anak.

D.     Faktor- faktor pendukung
Adanya motivasi sebagai seorang pendidik PAUD untuk mengembangkan kecerdasan jamak pada diri anak dan berusaha untuk diaplikasikan dalam bentuk bermain peran dan proses  pembelajaran lain.
Berawal dari ciri khas budaya daerah sendiri yang di terapkan sebagai muatan lokal pembelajaran anak. Sehingga sejak Anak Usia Dini dikenalkan dengan MULOK agar mengenal budaya daerah sendiri yang sudah berkembang dan diakui di dunia.
Suatu kesadaran untuk mencerdaskan anak bangsa yang tidak  hanya menilai anak berbakat atau berprestasi yang hanya ditunjukkan dengan sisi intelektual atau IQ saja. Ternyata kecerdasan yang dimiliki anak atau indivividu mempunyai kecerdasan jamak. Nantinya akan muncul kecenderungan yang menonjol dalam diri anak yang dapat dijadikan modal atau bekal hidup.
      
E.     Tindak Lanjut
Untuk mengatasi berbagai kendala yang muncul, ada beberapa solusi alternatif diantaranya:
Keterbatasan alat dapat diantisipasi dengan menggunakan barang barang bekas, seperti kardus, kain mori , pewarna makanan, atau meminjam barang dari yang dimiliki pendidik
Mengadakan pendekatan kepada orang tua dengan dialog yang membahas kecerdasan jamak pada diri anak. Bahwa setiap anak punya kecerdasan, sehingga orang tua tidak menilai atau berpikir yang sempit dengan melihat kecerdasan matematis IQ sebagai tolak ukur.





BAB V
SIMPULAN DAN REKOMENDASI

A.     Simpulan
Kecerdasan majemuk atau jamak  (Multiple Intelligences) yang mencakup delapan kecerdasan itu pada dasarnya merupakan pengembangann dari kecerdasan otak (IQ), kecerdasan emosional (EQ). Anak Usia Dini (AUD ) merupakan salah satu aset untuk pondasi dan mengembangkan kecerdasan jamak. Sehingga menjadi modal atau bekal hidup setelah dewasa nanti.
      Masalah yang dirumuskan adalah bagaimana metode yang digunakan dalam mengembangkan kecerdasan jamak pada Anak usia Dini.  Adapun metode ini yang digunakan adalah bermain peran.  

B.     Rekomendasi
Berdasarkan hasil karya ilmiah yang telah disajikan, penulis menyampaikan rekomendasi kepada:
1.      Orang tua
Orang tua ikut andil dalam mengembangkan kecerdasan jamak dalm lingkungan keluarga. Kesibukan orang tua dalam bekerja, sehingga orang tua tidak memahami potensi pada diri anak. Ketidak pahaman apa maksud atau pengertian  kecerdasan jamak pada anak. Sehingga orang tua bertolak ukur bahwa prestasi anak dilihat dari IQ saja. Untuk itu luangkan waktu nya sehingga dapat terjalin komunikasi dan kasih sayang akhirnya dapat mengetahui potensi diri anak atau bakat anak. Sehingga orang tua bisa memfasilitasi dan melatih kecerdasn yang sesuai potensi anak. Bisa mengarahkan pendidikan yang tepat sesuai bakat anak.        
2.      Pengambil Keputusan (DIKNAS)
Mengembangkan kecerdasan jamak sangat berarti dalam merealisasikan tujuan pendidikan yaitu sebagaimana tercantum juga dalam Tujuan Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah membentuk anak Indonesia yang berkualitas, diaman anak tumbuh kembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal dalam kehidupan dewasanya. Undang Undang SISDIKNAS No. 20 tahun 2003, Bab II pasal 3 bahwa tujuan Pendidikan Nasional adalah berkembangnya potensipeserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan berakhlak mulia. Untuk itu pemerintah berusaha memfasilitasi dalam mengembangkan kecerdasan jamak sehingga menjadi anak Indonesia yang berkualitas sesuai potensinya.
3.      Penulis Selanjutnya
Penulis menyadari dalam pembuatan karya ilmiah ini masih banyak kekurangan untuk itu bagi penulis selanjutnya semoga dapat dijadikan pijakan untuk mengembangkan karya selanjutnya.     







                                                                      daftar pustaka

Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jendral Pendidikan Luar Sekolah, Direktorat PAUD. 2004. Bahan Pelatihan Jilid 3 main Peran. Jakarta : Proyek Pengembangan Anak Usia Dini Pusat.
Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jendral Pendidikan Luar Sekolah, Direktorat PAUD. 2006. Pedoman Penerapan Pendekatan BCCT dalam PAUD. Yogyakarta : CV Pradana Utama.
http : // www.anakanak.org
Hurlock, EB. 2005. Perkembangan Anak, Jakarta : Erlangga
Megawangi, R. 2007. Makalah Seminar Pendidikan Holistik Berbasis Karakter di Covention Hall PLN JBN Semarang 17 Nopember 2007.
Undang-undang Sistem pendidikan Nasional Tahun 2003